Tingkatkan Kapasitas Kelola BELIDA, BKSDA Sumsel gandeng Tim UDIK dan Medsos BBTNGL

By Admin BKSDA Sumsel 22 Jun 2022, 17:05:00 WIB Kegiatan
Tingkatkan Kapasitas Kelola BELIDA, BKSDA Sumsel gandeng Tim UDIK dan Medsos BBTNGL

Palembang (21/6) - Dalam rangka upaya peningkatan pengelolaan data dan informasi lingkup Balai KSDA Sumatera Selatan yang lebih terstruktur dan terintegrasi di dalam Beranda Layanan Informasi dan Data (BELIDA) serta media sosial, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) menggandeng Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) dalam kegiatan Coaching pengelolaan data, informasi dan media social (medsos). Kegiatan dilaksanakan di Kantor BKSDA Sumsel pada Selasa, 21 Juni 2022.

Pihak BBTNGL diminta untuk menjadi narasumber karena telah melaksanakan pengembangan kolaborasi pengelolaan kawasan melalui manajemen data dan informasi terpadu dalam Unit Data dan Informasi Konservasi (UDIK). Unit Data dan Informasi ini telah ditetapkan dan berjalan di lingkup BBTNGL sejak tahun 2019 yang lalu. Dan telah banyak Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE) yang telah menjadikan BBTNGL sebagai model di dalam pengelolaan data dan informasi yang terintegrasi dan terpadu.

Untuk menjalankan fungsinya di dalam penyediaan data dan informasi, promosi dan pemasaran konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, BKSDA Sumsel pada tahun 2022 membentuk Beranda Layanan Informasi dan Data (BELIDA) sebagai unit pengelolaan data dan informasi. Dengan adanya BELIDA kedepan diharapkan data dan informasi lingkup BKSDA Sumsel akan dapat terkumpul dan tersistem di dalam satu rumah data yang terkoneksi pada keseluruhan aplikasi data lingkup BKSDA Sumsel, mulai dari aplikasi SIMAK BMN, SAKTI, E Monev Bappenas, SMART DJA, SIMPEG, serta SIDAK.

Baca Lainnya :

Dalam arahan dan sambutan sekaligus membuka acara Coaching Pengelolaan Data, Informasi dan Medsos Balai KSDA Sumatera Selatan, Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata menyampaikan bahwa BKSDA Sumsel tengah membangun suatu sistem pengelolaan data dan informasi yang terintegrasi dalam suatu unit layanan data yang bernama BELIDA. Dengan adanya BELIDA diharapkan seluruh data dan informasi yang berasal dari seluruh Resor Konservasi Wilayah (RKW), Seksi Konservasi Wilayah (SKW) dan juga lingkup Kantor Balai di Palembang akan dapat terkumpul di dalam satu rumah data yang kemudian akan dapat dianalisis sebagai bahan pembuatan kebijakan. “Kita bentuk BELIDA dengan mengadaptasi UDIK  BBTNGL untuk membuat pengumpulan data lingkup BKSDA Sumsel lebih terstruktur”, ujar Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata.

Dalam kegiatan Coaching Pengelolaan Data, Informasi dan Media Sosial BKSDA Sumsel disampaikan beberapa paparan terkait pengelolaan data, informasi dan medsos oleh 4 (empat) orang pemateri. Paparan pertama mengenai Sistem Pengelolaan Medsos BKSDA Sumsel disampaikan oleh Octavia Susilowati. Dalam paparan tersebut disampaikan terkait perkembangan pengelolaan medsos lingkup BKSDA Sumsel yang telah berjalan beserta perkembangannya. “BKSDA Sumsel terus berupaya di dalam pengelolaan medsos agar penyampaian informasi ke publik menjadi lebih baik”, ujar Octavia Susilowati.

Paparan kedua mengenai Sistem Pengelolaan Data dan informasi melalui BELIDA BKSDA Sumsel disampaikan oleh Taufan Kharis. Dalam paparan tersebut disampaikan upaya yang dilakukan oleh BKSDA Sumsel terkait pengelolaan data dan informasi dalam suatu aplikasi yang bernama Rumah Data. Dengan terbentuknya BELIDA, Aplikasi Rumah Data yang telah terbangun tersebut akan terintegrasi ke dalam aplikasi data lingkup BKSDA Sumsel, yaitu aplikasi SIMAK BMN, SAKTI, E Monev Bappenas, SMART DJA, SIMPEG, serta SIDAK. Meskipun Aplikasi Rumah Data masih dalam tahap peningkatan fitur, BKSDA Sumsel terus berupaya untuk mengumpulkan serta menginput data dan informasi dari RKW, SKW maupun setiap urusan yang ada Kantor Balai. “Urusan Data, Informasi, Perpetaan dan Kehumasan merupakan muara dari data-data yang dikumpulkan dari lapangan, yang akan diinput ke dalam Rumah Data”, ujar Taufan Kharis.

Paparan ketiga terkait Pembelajaran Pengelolaan Data dan Informasi melalui Aplikasi UDIK BBTNGL disampaikan oleh Ahtu Trihangga, Penyuluh Kehutanan sekaligus Koordinator UDIK BBTNGL. Dalam paparannya, Ahtu Trihangga menyampaikan bahwa upaya BBTNGL dalam menginisiasi terbentuknya UDIK melalui proses yang Panjang. Berbagai upaya dilakukan mulai dari FGD internal, konsultasi ke pimpinan di Ditjen KSDAE, konsultasi kepada para pakar, FGD bersama para pihak/ mitra, sosialisasi konsep UDIK kepada para pakar hingga akhirnya terbentuk UDIK pada tahun 2019.

Selain menyampaikan materi terkait UDIK, Ahtu Trihangga juga memberikan pengetahuan kepada para peserta coaching terkait alur pengisian data dan penyajian informasi lingkup BBTNGL dalam sistem UDIK. Disampaikan juga bahwa data dan informasi yang ada di dalam sistem UDIK dikelola dengan baik dan mudah diakses. Data dan informasi yang diinput ke dalam sistem UDIK adalah data yang terpadu, scientific based, evidence based, sesuai output target dan standar kinerja.

Peserta diberikan gambaran terkait alur pengisian data patroli dari tim SMART Patrol yang ada di setiap Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) lingkup BBTNGL. Data patroli yang telah terinput ke dalam UDIK telah dapat dianalisis sehingga memudahkan pengelola UDIK dalam tahapan penyajian informasi sebagai bahan publikasi ke medsos. Infomasi terkait patroli tersebut juga digunakan sebagai bahan perencanaan kegiatan patroli selanjutnya. Selain itu juga digunakan dalam pembuatan kebijakan yang mendukung pengelolaan kawasan TNGL.

Pembelajaran Pengelolaan Website dan Media Sosial pada BBTNGL disampaikan oleh Yunita Aprilia. Dalam paparannya, Yunita Aprilia menyampaikan terkait prinsip dan etika mengelola medsos instansi pemerintah. Ada beberapa panduan di dalam pengelolaan medsos lingkup instansi pemerintah yang harus diperhatikan oleh admin pengelola medsos pemerintah. Prinsip pengelolaan medsos yang harus diperhatikan antara lain kredibel, responsif, integritas, terintegrasi (offline dan online), profesional dan keterwakilan. Etika medsos pemerintah sebagaimana Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen PANRB) Nomor 83 Tahun 2017 yang harus diperhatikan antara lain:

1.    Menjunjung tinggi kehormatan instansi
2.    Memiliki keahlian, kompetensi, objektivitas, kejujuran dan integritas
3.    Menjaga rahasia negara dan melaksanakan sumpah jabatan
4.    Menegakkan etika yang berlaku agar tercipta citra dan reputasi instansi pemerintah
5.    Menghormati kode etik pegawai negeri
6.    Menyampaikan dan menerima informasi publik yang benar, tepat dan akurat
7.    Menghargai, menghormati dan membina solidaritas serta nama baik instansi dan perorangan
8.    Melaksanakan keterbukaan informasi publik sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan

Simulasi pembuatan konten medsos juga turut disampaikan oleh Yunita Aprilia mengenai bagaimana mengedit sebuah foto ataupun video untuk dijadikan konten sebelum diposting ke media sosial. Beberapa tips dan juga trik bagaimana membuat suatu konten yang menarik juga disampaikan kepada para peserta agar kedepan medsos BKSDA Sumsel semakin menarik, informatif dan edukatif, dengan tetap memegang prinsip dan etika sebagai medsos plat merah.

Dalam pelaksanaan kegiatan juga diselingi dengan kuis sebagai post test dan pemilihan 3 foto terbaik dan 1 foto favorit dari para peserta kegiatan. Sejumlah 45 foto terbaik para peserta kegiatan telah dikirimkan kepada panitia 1 hari sebelum acara dimulai. Dari 45 foto tersebut kemudian dipilih 10 kategori foto terbaik untuk dilakukan penilaian oleh para juri. Dari 10 foto yang dinilai oleh dewan juri tersebut, panitia kemudian mengumumkan dan menetapkan 3 foto terbaik. Untuk 7 foto terbaik lainnya dilakukan voting untuk menentukan kategori foto terfavorit pilihan para peserta coaching.

Acara Coaching Pengelolaan Data, Informasi dan Medsos BKSDA Sumsel ditutup oleh Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata. “Saya hanya memastikan dan memberikan motivasi kepada teman-teman selaku walidata agar dapat mengkawal sistem yang sudah kita bangun ini agar menjadi lebih baik kedepannya. Media sosial BKSDA Sumsel harus menjadi corong yang efektif dalam menginformasikan ke publik terkait upaya yang dilakukan BKSDA Sumsel dalam pengelolaan konservasi”, pungkas Ujang Wisnu Barata.





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment