PERINGATI HARI LINGKUNGAN HIDUP, BKSDA SUMSEL KEMBALIKAN 8 EKOR SATWALIAR KE HABITATNYA DI SM DANGKU

By Admin BKSDA Sumsel 29 Jun 2022, 20:48:18 WIB Kegiatan
PERINGATI HARI LINGKUNGAN HIDUP, BKSDA SUMSEL KEMBALIKAN 8 EKOR SATWALIAR KE HABITATNYA DI SM DANGKU

Musi Banyuasin (29/6) – Dalam rangka Road to Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2022 serta melanjutkan implementasi program “Living in Harmony with Nature Melestarikan Satwa Milik Negara”, masih dalam suasana Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni lalu yang mengusung tema “Only One Earth (Sustainably in Harmony with Nature) atau “Satu Bumi untuk Masa Depan", Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melaksanakan pelepasliaran 8 (delapan) ekor satwa liar dilindungi pada Rabu, 29 Juni 2022. Kedelapan satwa dilindungi tersebut antara lain 4 ekor owa siamang (Symphalangus syndactylus), 2 ekor beruang madu (Helarctos malayanus), 1 ekor binturong (Arctictis binturong) dan 1 ekor kucing hutan (Felis bengalensis).

Para pihak yang turut serta dalam kegiatan pelepasliaran satwa antara lain Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Musi Banyuasin, PT. Pinago, PT. Sentosa Bahagia Bersama, PT. PLN UIP Sumbagsel dan perwakilan awak media.

Satwa-satwa yang dilepasliarkan merupakan serahan dari masyarakat yang sebelumnya dititiprawatkan di Resor Konservasi Wilayah (RKW) IV Kota Palembang, yang diliput dengan Berita Acara Penyerahan. Owa Siamang (Symphalangus syndactylus) berdasarkan Berita Acara Penyerahan Satwa Liar Yang Dilindungi Undang-undang Nomor BA.02/SKWI/RKWIV/2/2022 tanggal 7 Februari 2022, BA.46/K.12/SKW-2/10/2021 tanggal 21 Oktober 2021, BA.19/K.12/SKWII/8/2021 tanggal 13 Agustus 2021, dan BA.151/K.12/SKW-I/KSA/8/2021 tanggal 10 Agustus 2021. Beruang Madu (Helarctos malayanus) berdasarkan Berita Acara Penyerahan Satwa Liar Yang Dilindungi Undang-undang Nomor BA.2772/K.12-TU/KSA/12/2021 tanggal 3 Desember 2021 dan 014/K.12/SKWII-PPH/09/2021 tanggal 12 September 2021. Kucing Hutan (Felis bengalensis) berdasarkan Berita Acara Penyerahan Satwa Liar Yang Dilindungi Undang Nomor BA.15/SKW I/RKWIV/4/2022 tanggal 16 April 2022. Binturong (Arctictis binturong) berdasarkan Berita Acara Penyerahan Satwa Liar Dilindungi Undang-undang Nomor BA.09/SKWI/RKWIV/3/2022 tanggal 15 Maret 2022.

Baca Lainnya :

Seluruh satwa yang dilepasliarkan tersebut telah menjalani pemeriksaan medis dan rehabilitasi di RKW IV Kota Palembang. Hasil pengecekan kesehatan terhadap beruang madu (Helarctos malayanus) dan siamang (Symphalangus syndactylus), telah dinyatakan bebas COVID oleh Balai Veteriner Lampung, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Proses rehabilitasi yang dilaksanakan oleh tim RKW IV Kota Palembang mulai dari masa karantina dan pemeriksaan medis untuk memastikan satwaliar yang akan dilepasliarkan sehat sehingga tidak berpotensi menyebarkan zoonosis di habitat barunya, di SM Dangku. Kajian terhadap perilaku satwa juga dilakukan dengan mengamati aktivitas harian, pakan serta kebiasaan yang dilakukan satwa. Hal ini untuk memastikan bahwa perilaku liar/ anatagonistik satwa telah kembali. Berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi baik dari sisi medis maupun pola perilaku, penilaian terhadap satwa-satwa tersebut dinyatakan siap dilepasliarkan kembali. Kedelapan satwa dimaksud juga telah dilakukan pemeriksaan kesehatan akhir sebelum dilepaslliarkan dengan adanya Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) Nomor: 177/520/DPKP/XI/SKKH/ 2022 tanggal 20 Juni 2022 yang menyatakan bahwa satwa liar yang akan dilepasliarkan sehat dan layak untuk dilepasliarkan.

Lokasi pelepasliaran sebelumnya telah dilakukan kajian habitat terlebih dahulu untuk memastikan bahwa kondisi habitat meliputi kondisi tutupan vegetasi, ketersediaan air yang mencukupi, tingkat keamanan dari gangguan manusia baik/ lokasi pelepasliaran jauh dari pemukiman penduduk, keberadaan populasi satwaliar sejenis di lokasi, penentuan posisi titik pelepasliaran, serta aksesibilitas. Berdasarkan hasil kajian habitat yang dilakukan oleh tim, maka diperoleh lokasi pelepasliaran yang sesuai bagi kedelapan satwa dilindungi tersebut di kawasan SM Dangku yang masuk ke dalam wilayah administrasi Desa Talang Buluh, Kecamatan Batanghari Leko, Kabupaten Musi Banyuasin.

Kedelapan satwa yang dilepasliarkan merupakan satwa dilndungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.106/MENLHK/ SETJEN/KUM/12/2018 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: P.20/ MENLHK/ SETJEN/KUM.1/6/ 2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Yang Dilindungi. Owa siamang (Symphalangus syndactylus) merupakan jenis satwa yang masuk dalam kategori Endangered atau terancam punah berdasarkan data International Union for Conservation of Nature (IUCN) Redlist. Sementara untuk jenis beruang madu (Helarctos malayanus) dan binturong (Arctictis binturong) masuk dalam kategori Vulnerable (rentan). Sedangkan kucing hutan (Felis bengalensis) masuk dalam kategori Least Concern (tidak mengkhawatirkan).

Sebagaimana yang disampaikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bahwa salah satu masalah utama yang sedang dihadapi oleh dunia saat ini adalah hilangnya habitat dan faktor lain yang menyebabkan sekitar 1 juta spesies terancam punah. Dengan dilakukannya program pelepasliaran kedelapan satwa ini ke habitatnya, diharapkan kedepan satwa ini mampu bertahan hidup dan berkembang biak, sehingga dapat menambah populasi di alam. Dengan demikian, kepunahan spesies ini dapat dihindari.

Menurut Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, merujuk Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, upaya pelepasliaran satwa merupakan upaya yang dilakukan Pemerintah untuk meningkatkan populasi satwaliar dilindungi di alam. “Kawasan SM Dangku merupakan salah satu kawasan konservasi yang menjadi habitat dari jenis satwa yang kita lepasliarkan saat ini. Kami akan terus berupaya dalam pelestarian jenis satwa dilindungi sehingga kepunahannya di alam dapat kita hindari”, pungkas Ujang Wisnu Barata, Kepala BKSDA Sumsel.

Penanggung jawab berita :

Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan Ujang Wisnu Barata – 0852-0780-4307

Narahubung :

Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Balai KSDA Sumatera Selatan Yusmono – 0812-7819-856

Call Center : 0812-7141-2141








Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment