Peringati Hari Bakti Rimbawan ke-39, Direktur BPPE Lakukan Kunjungan Kerja ke Sumatera Selatan

By Admin BKSDA Sumsel 03 Apr 2022, 20:44:38 WIB Kegiatan
Peringati Hari Bakti Rimbawan ke-39, Direktur BPPE Lakukan Kunjungan Kerja ke Sumatera Selatan

Direktur Bina Pengelolaan Pemulihan Ekosistem (BPPE), mewakili Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Dirjen KSDAE) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK), didampingi Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) dan jajarannya, melaksanakan serangkaian kegiatan Hari Bakti Rimbawan ke-39. Rangkaian kegiatan tersebut meliputi pembinaan pegawai, dialog interaktif dan peresmian “Greenhouse Selangit”.

Pembinaan Pegawai


Baca Lainnya :

Kegiatan pembinaan pegawai dilaksanakan secara hybrid, dihadiri oleh seluruh pegawai lingkup BKSDA Sumatera Selatan. Turut hadir secara virtual, sejumlah UPT lingkup Ditjen KSDAE. Dalam kesempatan ini, Dirjen KSDAE memberikan arahannya secara virtual yang dilanjutkan oleh Direktur BPPE secara faktual.

Dalam arahannya, Dirjen KSDAE menyampaikan bahwa BKSDA Sumsel harus mampu menyelenggarakan pelayanan publik dengan baik. Beliau juga berpesan agar pendidikan konservasi bagi pelajar di sekitar kawasan diaktifkan kembali melalui program KSDAE Mengajar. Serta perlunya peningkatan komunikasi antara BKSDA Sumsel, Pemerintah Daerah, private sector, akademisi, media, dan para mitra strategis. Selain itu, masyarakat di sekitar kawasan konservasi perlu diajak bersama-sama untuk melestarikan kawasan beserta keanekaragaman hayati melalui pendekatan kesejahteraan ekonomi.

Dirjen KSDAE juga mengapresiasi progres capaian BKSDA Sumsel, merespon paparan yang disampaikan Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata.

Dialog Interaktif


Dialog interaktif kali ini dilaksanakan di Hotel Dewinda Kota Lubuk Linggau. Mengusung tema “Implementasi Konservasi Insitu dan Eksitu dengan Prinsip Kolaboratif-Partisipatif”, acara ini menghadirkan para panelis antara lain Direktur BPPE Dr. Ir. Ammy Nurwati, M.M, mewakili Dirjen KSDAE, Wakil Bupati Musi Rawas, Kadis LH Muara Enim, Kepala BKSDA Sumsel, perwakilan PT Pertamina EP Asset 2, dan Kepala SKW II Lahat.

Kegiatan dilaksanakan secara hybrid, yang dihadiri oleh unsur Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim dan Musi Rawas, Kecamatan, Desa, mitra kerjasama, serta sejumlah UPT KSDAE, yaitu Balai Besar TN Kerinci Seblat, Balai TN Bukit Dua Belas dan BKSDA Bengkulu. Turut hadir secara virtual, sejumlah UPT lingkup KSDAE, dan para pihak lainnya.

Opening Dialog disampaikan oleh Dirjen KSDAE Ir. Wiratno, M.Sc secara virtual dan kemudian dilanjutkan dengan dialog interaktif secara faktual. Bapak Wiratno mengapresiasi Pemeintah Kabupaten (Pemkab) Muara Enim dan Musi Rawas serta para pihak yang mendukung kegiatan konservasi insitu maupun eksitu di wilayah Sumsel. “Kita perlu mengoptimalkan komunikasi dengan masyarakat, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Desa. Pembangunan di tingkat desa bisa disinergikan dengan pengelolaan konservasi di wilayah Sumatera Selatan”, pungkasnya.

Direktur BPPE, Dr. Ir. Ammy Nurwati, M.M, menyatakan bahwa upaya-upaya yang dilakukan oleh Ditjen KSDAE tidak bisa diwujudkan tanpa adanya dukungan para pihak di Sumatera Selatan. Pemerintah pusat mengapresiasi atas upaya BKSDA Sumsel dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dengan mudah memahami dan melaksanakan konservasi dengan baik. “saya mengapresiasi tindakan Pak Suryatin yang telah menghibahkan tanahnya untuk kepentingan konservasi” tambahnya.

Pemerintah Kabupaten Musi Rawas, melalui Wakil Bupati Musi Rawas, Hj. Suwarti mengungkapkan, pihaknya mendukung konservasi di dalam dan luar kawasan. “Kegiatan konservasi dapat mendongkrak perekonomian Kabupaten Musi Rawas. Kemudian kekayaan sumber daya alam yang ada dapat dikembangkan oleh kader konservasi.”, pungkasnya.

Kepala Dinas Muara Enim, Ir. Kurmin, M.Si, mengatakan, “Dari kawasan konservasi yang luasnya kurang lebih 600 ha, banyak sumber daya alam yang bisa kita manfaatkan secara bersama-sama. Bisa kita kolaborasikan antara KLHK dan Pemkab Muara Enim. Kami akan melakukan pendampingan baik kepada yang memberi manfaat kemitraan ini dan bersama-sama BKSDA Sumsel. Kolaborasi antara BKSDA Sumsel dan Pemkab Muara Enim diharapkan dapat berjalan lancar dan kepada masyarakat semoga program ini dapat meningkatkan perekonomian.”

Dirjen KSDAE, Bapak Wiratno menambahkan pesan, “Ketika masyarakat mendapatkan manfaat dari kemitraan, mereka akan mengembangkan kawasan konservasi.”

Salah satu penerima penghargaan dari Dirjen KSDAE, Bapak Suryatin yang menghibahkan lahannya untuk kawasan konservasi, memegang prinsip bahwa kawasan konservasi itu penting dan ada hubungannya dengan makhluk hidup. Kemudian beliau menambahkan, hibah lahan tersebut bertujuan untuk pemulihan anggrek dan edukasi terkait konservasi, dan berharap bahwa kedepan Kabupaten Musi Rawas akan menjadi kawasan edukasi terkait flora di Sumatera Selatan. “Saya punya harta, namun saya ingin mengembangkannya untuk dunia dan akhirat. Jika ingin hidup tenang maka lestarikan hutan”, pungkasnya.

Pihak Pertamina EP Asset 2 melalui perwakilannya, Suharyadi, menyatakan bahwa pihaknya telah berkomitmen terkait konservasi keanekaragaman hayati. Pertamina EP Asset 2 berkolaborasi dengan BKSDA Sumsel dalam pelestarian keanekaragaman hayati di sekitar dan di luar wilayah kerja dengan tujuan untuk menjalankan proper.

Kepala BKSDA Sumsel, Ujang Wisnu Barata, menyatakan apresiasi kepada Pemkab Muara Enim dan Pemkab Musi Rawas beserta jajarannya dalam mendukung konservasi insitu dan eksitu untuk mewujudkan organisasi yang inklusif. “Seksi Konservasi Wilayah II telah mulai membangun kepercayaan warga di sekitar kawasan dari tahun 2016, dan 24 desa telah selesai menandatangani kesepakatan konservasi. Dan hari ini akan ditandatangani kesepakatan antara Dirjen KSDAE dengan Bupati sebagai landasan komitmen dan kolaborasi kedepan, tidak hanya dalam hal kemitraan konservasi tapi juga pengembangan ekowisata”, ungkapnya.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) II Lahat, Martialis Puspito Khristy dalam paparannya menyampaikan upaya-upaya yang telah dilakukan selama kurun waktu 2016 hingga saat ini. Upaya membangun komunikasi dan kepercayaan dengan masyarakat yang dirasa tidak mudah tidak mengurangi semangat teman-teman di SKW II Lahat. “Strategi kami adalah mengupayakan mengelola masyarakat dalam pengelolaan kawasan SM Isau-Isau. Kegiatan pemulihan ekosistem dilakukan dengan berbasis penguatan ekonomi masyarakat dan kami juga berinvestasi untuk generasi masa depan dengan memasukkan nilai konservasi ke dalam muatan lokal Sekolah Dasar di sekitar kawasan konservasi. Harapannya kedepan kita dapat melakukan upaya konservasi secara menyeluruh”, pungkasnya.

“Segala macam bentuk kegiatan yang diberikan oleh BKSDA Sumsel, kami sebagai KTHK telah merasakan manfaat kesejahteraan. Kami sebagai KTHK tinggal memenuhi kewajiban karena hak kami sudah dipenuhi. Saat ini kewajiban kami adalah menjaga hutan”, ungkap Pak Halimi, Ketua Kelompok KTKHK Durian Jaya, yang ikut menandatangani perjanjian kerjasama kemitraan konservasi dengan Kepala Balai KSDA Sumatera Selatan.

Keberhasilan BKSDA Sumsel dalam pembangunan kolaborasi terhadap berbagai pihak diawali oleh kepercayaan. Mengubah perspektif masyarakat dan meyakinkan masyarakat bahwa dengan mengelola kawasan konservasi, perekonomian masyarakat akan meningkat. Dalam mengembangkan kawasan konservasi, harus mempertimbangkan sosial dan budaya masyarakat sekitar. Fasilitator mengapresiasi sosok baru BKSDA sebagai sosok yang santun, bekerja dengan hati, dan melihat semuanya dari segi humanis.

Pada akhir acara dialog, para panelis dan fasiitator mendapatkan buku, yaitu: Anggrek Alam Sumatera Selatan dan Sekitar, Catatan Perjalanan “Enim”, dan Mencari Jalan Tengah: Pembelajaran dari Suaka Margasatwa Dangku.

Selain dialog, juga dilakukan pembacaan dan penandatanganan kesepakatan konservasi antara Dirjen KSDAE dengan Bupati Muara Enim, yang berisi komitmen kolaborasi pengelolaan Kawasan SM Isau-isau dan sekitarnya. Dilanjutkan penandatanganan Perjanjian Kerjasama Kemitraan Konservasi antara Kepala BKSDA Sumsel dengan 3 (tiga) KTHK yaitu KTHK Sumur Jaya Mandiri, KTHK Durian Jaya dan KTHK Taptiking Maju Bersama sebagai wujud konkrit membuka ruang partisipasi masyarakat dalam pemulihan dan pengamanan kawasan. 

Dan terakhir, sebagai bentuk apresiasi, Direktur BPPE menyampaikan penghargaan Dirjen KSDAE atas kontribusi pada konservasi, kepada unsur Pemkab Muara Enim atas dukungan dan kepeduliannya dalam Penanganan Konflik Harimau Sumatera “Enim”, Musi Rawas atas dukungan dan kepeduliannya dalam upaya penyelamatan flora, Musi Rawas Utara atas dukungan dan kepeduliannya dalam Penanganan Konflik Gajah Sumatera di Kabupaten Musi Rawas Utara, dan Bapak Suryatin (Pegiat Konservasi). 

Pembangunan Greenhouse Selangit: “Merajut Asa Penyelamatan Flora Sumatera Selatan”

Peneliti menduga bahwa ada sekitar 25.000 hingga 30.000 spesies anggrek di dunia dan masih banyak lagi spesies yang belum dideskripsikan. Terdapat sekitar 6.500 spesies anggrek yang tumbuh di Kepulauan Indonesia yang menjadikan Indonesia menjadi negara yang memiliki keanekaragaman spesies anggrek tertinggi dengan jumlah prosentase sebesar 25% spesies anggrek yang ada di dunia. Sudah tidak diragukan lagi bahwa Pulau Sumatera memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi baik flora maupun fauna. Dengan bentang alam yang sangat beragam dan unik menciptakan berbagai jenis ekosistem, tercipta dan penunjang kehidupan berbagai jenis flora dan fauna endemik di seluruh daratan Sumatera dan juga pulau-pulau kecil sekitarnya. Perlu diketahui bahwa Pulau Sumatra menyumbangkan lebih dari 1.500 jenis anggrek spesies alam. Contoh Anggrek yang sangat populer adalah jenis anggrek bulan Phalaenopsis amabilis atau sering disebut juga anggrek ngengat dan diakui sebagai Puspa Bangsa kita sebagai lambang Kecantikan dan Kemurnian. Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional, anggrek bulan Phalaenopsis amabilis ditetapkan sebagai puspa pesona. Oleh sebab itu keberadaan dan kelestarian anggrek merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan sebagaimana kita menjaga identitas bangsa Indonesia.

Sumatera memiliki keanekaragaman flora yang sangat luar biasa dan kita dapat mengatakan bahwa Sumatera merupakan laboratorium hidup bagi para ahli botani atau pecinta tumbuhan untuk mempelajari lebih jauh tentang evolusi dan adaptasi flora yang ada di kawasan Asia, namun sayangnya flora saat ini belum mendapatkan perhatian yang mendalam dalam berbagai aspek termasuk ilmu pengetahuan dan perlindungan di Indonesia bahkan dunia. Melihat tingginya tingkat kerusakan alam akibat alih fungsi lahan, pembalakan liar, kebakaran hutan, perkebunan ilegal dan praktek pertanian yang tidak lestari menjadi beberapa faktor penyebab menurunnya keanekaragaman dan populasi anggrek liar di Sumatera Selatan. Selain kerusakan alam, tingginya eksploitasi anggrek alam sebagai komoditas perdagangan yang tidak terkendali merupakan masalah lain yang dihadapi yang menyebabkan penurunan populasi anggrek di alam dengan cepat. Anggrek adalah tumbuhan yang sangat unik yang dapat menghasilkan aroma tertentu atau struktur bunga tertentu untuk menarik penyerbuk tertentu. Saat anggrek punah maka binatang penyerbuk pun punah.

Terdapat sekitar 1000 spesies anggrek yang terdaftar sebagai terancam punah oleh organisasi internasional yang didedikasikan untuk konservasi sumber daya alam, IUCN (International Union for Conservation of Nature). Dari berbagai permasalahan tersebut, Penyelamatan Flora merupakan salah satu solusi untuk melindungi dan menyelamatkan tumbuhan, khususnya anggrek serta flora yang ada di Sumatera Selatan, untuk menghindari kepunahan local (local extinction). Untuk itu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Selatan (BKSDA Sumsel) melalui Seksi Konservasi Wilayah II Lahat yang dipimpin oleh Martialis Puspito Khristy Maharsi dibantu oleh Kader Konservasi BKSDA Sumsel, Pungky Nanda Pratama berinisiasi untuk memulai Pilot Project Rescue Flora pada tahun 2017 dengan pelaksanaan komitmen membangun satu unit Demplot Anggrek di Kecamatan Selangit, Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan seluas 24 m2 dengan kapasitas 400 spesimen.


Program konservasi tumbuhan ini bertujuan untuk melestarikan Flora Asli Sumatera dari kepunahan lokal (local extinction) dan Demplot anggrek memiliki fungsi sebagai tempat rehabilitasi anggrek yang telah diselamatkan dari berbagai permasalahan yang menyebabkan keterancaman terhadap keberadaan anggrek dan tingginya eksploitasi anggrek alam sebagai komoditas perdagangan yang tidak terkendali menjadi penyebab penurunan populasi anggrek di alam dengan cepat. Program penyelamatan Flora memiliki tiga fokus utama: Penyelamatan, Perbanyakan dan Pelepasan spesies atau flora potensial yang terancam punah dan dilindungi dengan tujuan untuk meningkatkan populasi flora asli di alam liar dan juga menyediakan tempat pendidikan untuk mempelajari lebih lanjut tentang flora asli bagi masyarakat dan orang-orang yang tertarik dengan botani.  

Dalam kurun waktu 2017-2020, BKSDA Sumsel bersama masyarakat dan dukungan pemerintah setempat melaksanakan upaya penyelamatan flora. Dari hasil penyelamatan, semua spesimen akan dirawat di demplot seluas 24 m2 yang mampu menampung lebih dari 400 spesimen dengan 250 species anggrek yang berhasil diidentifikasi dan lebih dari 100 spesimen anggrek yang belum teridentifikasi dari berbagai genus anggrek asli Pulau Sumatera. Tiga spesies anggrek yang berstatus dilindungi oleh undang-undang yaitu spesies anggrek bulan Sumatra (Phalaenopsis sumatrana), Anggrek Bulan Jawa (Phalaenopsis javanica) dan species anggrek (Vanda sumatrana), berbagai genus anggrek seperti Grammatophyllum, Cymbidium, Coelogyne, Eria, Phalaenopsis, Vanda, Paphiopedilum dan beberapa genera lainnya yang populasinya kian menurun namun belum memiliki status perlindungan. 

Banyak dari koleksi BKSDA Sumsel adalah spesies endemik dan ikonik dari Sumatera yang berstatus dilindungi maupun belum memiliki status perlindungan yang tidak dapat dilihat di tempat lain di bumi. Salah satunya adalah anggrek jenis Vanda foetida yang belum memiliki status perlindungan namun populasi dialam menurun tajam akibat eksplotasi berlebihan dan hilangnya habitat. Hal serupa terjadi pada spesies anggrek kasut superbiens (Paphiopedilum superbiens) yang merupakan Anggrek Langka yang memiliki status Appendix I dari dari Badan Perdagangan Flora dan Fauna Internasional atau CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora). Berdasarkan CITES, spesies ini tidak bisa diperdagangkan secara internasional karena keberadaannya sudah sangat langka dan terancam kepunahan namun spesies tersebut belum masuk dalam status anggrek yang dilindungi di Indonesia. Pada tahun 2020 BKSDA Sumsel menyita spesies anggrek ini dari pedagang ilegal tumbuhan di kawasan Pagar Alam yang mengambilnya dari kawasan konservasi yang dilakukan secara ilegal. Dengan begitu banyaknya spesies anggrek di Sumatera yang berstatus endemik, BKSDA Sumsel melakukan langkah besar untuk menyelamatkannya dari kepunahan melalui program penyelamatan flora.

Dari semua kegiatan penyelamatan flora yang telah dilakukan secara intensif selama kurun waktu 2017-2021 memberikan dampak yang signifikan terhadap pertambahan jenis (spesies) dan pertambahan jumlah tanaman (spesimen) yang dikoleksi di dalam greenhouse. Hal ini mengakibatkan greenhouse seluas 24 m2 tersebut tidak ideal untuk menampung semua tanaman. Kegiatan penyelamatan flora pada periode tahun 2019-2020 dilakukan hampir setiap bulan dengan jangkauan lokasi penyelamatan semakin luas di berbagai wilayah yang disertai dengan pengerahan personil Seksi Konservasi Wilayah II Lahat. Pada saat ini jumlah tanaman di dalam greenhouse telah mencapai lebih dari 400 spesimen dengan tambahan beberapa famili tanaman baru seperti Hoya, Mymercodia (tanaman sarang semut), Piper, Dracaena yang membuat greenhouse over kapasitas, sehingga membutuhkan greenhouse baru.

Perlu diketahui bahwa kegiatan penyelamatan flora juga melibatkan peran serta masyarakat sekitar kawasan dan juga hobiis anggrek di area Sumatera Selatan dan Bengkulu sejak tahun 2017 hingga sekarang. Dengan adanya keterlibatan penduduk lokal, diharapkan akan memberikan contoh positif dan menggugah hati masyarakat untuk turut serta dalam upaya penyelamatan flora khas Sumatera bersama-sama. Selain itu dari kegiatan penyelamatan flora, terdapat dampak positif bagi generasi muda untuk belajar dan menimba ilmu mengenai tumbuhan atau botani.

Keseriusan BKSDA Sumsel dalam penyelamatan flora khususnya jenis anggrek menarik PT. Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field untuk ikut bergabung dalam upaya konservasi flora Sumatra. Komitmen PT. Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field ditunjukkan dengan Pembebasan Status dan Pelepasan Hak Kepemilikan Perorangan dari Area Sebesar 7.000 m2 Lahan yang berlokasi di Desa Karang panggung, Kecamatan Selangit, Kabupaten Musirawas. Pembebasan Status dan Pelepasan Hak Kepemilikan Perorangan dilakukan oleh Bapak Suryatin kepada pihak BKSDA Sumsel yang menyatakan bahwa kepemilikan lahan yang sebelumnya dimiliki oleh penduduk lokal berubah status menjadi kepemilikan dari BKSDA Sumsel yang mewakili Negara Republik Indonesia dan menjadi Barang Milik Negara (BMN). Lahan seluas 7.000 m2 diperuntukkan serta digunakan sebagai area pengembangan program konservasi flora di Sumatera Selatan melalui pembangunan greenhouse dengan kelengkapan fasilitas, arboretum, dan bangunan kantor resor eksitu. 

Pada awal tahun 2021, PT. Pertamina EP Asset 2 Pendopo Field atas dasar payung Perjanjian Kerja Sama nomor PKS.825/K.12/TU/KSA/5/2020 dan 678/EP3600/2020-SO membangun greenhouse baru seluas 150 m2 dengan kapasitas yang mampu menampung 10.000 spesimen, dan diresmikan pada hari Sabtu, 26 Maret 2022. 

Rangkaian peresmian greenhouse pusat rescue flora ini ditutup dengan penanaman pohon di areal sekitar greenhouse dengan jenis-jenis antara lain rambai (Baccaurea motleyana), balam (Palaquium sp.), dan cempedak (Artocarpus integer). 





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment