Mengenal Prasasti Talang Tuwo : Bukti Sejarah Konservasi di Bumi Sriwijaya
Oleh Octavia Susilowati

By Admin BKSDA Sumsel 08 Jun 2022, 18:52:49 WIB Halo #SobatBKSDA
Mengenal Prasasti Talang Tuwo : Bukti Sejarah Konservasi di Bumi Sriwijaya

Keterangan Gambar : Sumber : (Siregar 2018)


Prasasti Talang Tuwo pertama kali ditemukan oleh Alwi Lihan, seorang petani asal Dusun Meranjat, pada 17 November 1920 (Yenrizal, 2018). Ia menemukan sebuah bongkahan batu yang tidak biasa yang berbentuk menyerupai lempengan dan berisi tulisan-tulisan dengan huruf Pallawa dalam Bahasa Melayu Kuno yang tentu saja tidak dia pahami artinya. Lokasi pembuatan prasasti sudah berubah wujud menjadi sebuah talang. Wilayah bukit ini dikelilingi sebuah sungai, dan menjadi habitat bagi satwa khas sumatera seperti harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Oleh Alwi Lihan, batu tersebut dibawa ke Bukit Siguntang dan diserahkan ke Resident Palembang, LC Westenenk, kala itu. Batu itulah yang kemudian disebut dengan Prasasti Talang Tuwo.

Dalam versi lain, disebutkan juga bahwa penemu prasasti ini adalah LC Westenenk sendiri. Dan dalam beberapa literatur juga disebutkan bahwa penemu Prasasti Talang Tuwo adalah LC Westenenk. Seorang Arkeolog, Bambang Budi Utomo meyakini bahwa penemu Prasasti Talang Tuwo adalah Alwi Lihan, petani yang berasal dari Meranjat. Hal ini diperkuat dengan adanya keterangan dari ahli waris dan cerita para tetua di Desa Talang Kelapa (Talang Tuwo masuk dalam desa ini). Saat ini, Prasasti Talang Tuwo disimpan di Museum Arsip Nasional Jakarta (Andhifani, 2008 dalam Siregar, 2018).

Isi dari parasasti Talang Tuwo (Sholeh, 2017; Rezeki 2020) sebagai berikut:

Baca Lainnya :

1. Svasti Sri sakavarsatita 606 dim dvitiya sukalapaksa vulan caitra. Sana tatkalana parlak sriksetra ini. Niparvuat;

2. Parvanda punta hiyam sri jayanasa. Ini pranidhananda punta hiyam. Savanakna yam nitanam di sini. Niyur pinam hanau.ru;

3. Mviya dnan samisrana yam kayu nimakan vuahna. Tathapi haur vuluh pattum ityevamadi. Punarapi yam parlak vukan;

4. Dnan tavad talaga savanakna yam vuatku sucarita paravis prayojanaka punyana sarvvastva sacaracar. Varopayana tmu;

5. Sukha. Di asannakala di antara margga lai. Tmu muah ya ahara dnan air niminumna. Savanakna vuatna huma parlak mancak mu;

6. Ah ya mamhidupi pasu prakara. Marhulun tuvi vrdddhi muah ya janan ya niknai savanakna yam upasargga. Pidanu svapnavigna. Varam vua;

7. Tana kathamapi. Anukula yam graha naksatra paravis diya. Nirvyadhi ajara kavuatanana. Tathapi savanakna yam nhtyana;

8. Satyarijava drdhabhakti muah ya dya. Yam mitrana tuvi janan ya kapatayam vinina mulam anukula bharyya muah ya. Varam stha;

9. Nana lagi curiuca vadhana paradara di sana. Punarapi tmu ya kalyanamitra. Marvvanun vodhicitta dnan maître;

10. Dhari di dam hyam ratnatraya janan marsarak dnan dam hyam ratnaraya. Tathapi nityakala tyaga marsila ksanti marvvanun viryya rajin;

11. Tahu di samisrana silpakala paravis. Samahitacina. Tmu ya prajna. Snrti medhavi. Punarapi dhairyyamani mahasattva;

12. Vajrasarira. Anupamasakti. Jaya. Tathapi jatismara. Avikalendriya. Mancak rupa. Subhaga hasin halap. Ade;

13. Yavakya.Vramaswara. Jadi laki. Svayambhu. Punarapi tmu ya cintamanindhana. Tmu janmavasita karmavasita. Klesavasita;

14. Avasana tmu ya anuttarabhisamyaksamvodhi.

Terjemahan dari isi Prasasti Talang Tuwo menurut Coedes (2014) dalam Sholeh (2017) adalah sebagai berikut :

1. Selamat sejahtera! Pada hari kedua paroterang, Bulan Caitra, Tahun 606 Saka, saat itulah taman (yang bernama) Sri Ksetra ini dibuat.

2. Punta Hyam Sri Jayanasa wujud pranidhana Punta Hiyam, (dan)

hendaknya semua tanaman yang telah ditanam di taman Sri Ksetra ini seperti kelapa, pinang,

3. Aren, dan sagu serta jenis-jenis pohon bambu, seperti bambu haur, bambu (wuluh), dan bambu betung dan sejenisnya. Termasuk pula taman-taman, bendungan- bendungan,

4. Telaga-telaga. Semua amal saya berikan hendaknya dipelihara, demi kesejahteraan dan kepentingan seluruh makhluk hidup seperti manusia, binatang (bergerak) dan tanaman (tidak bergerak). Sebagai tempat yang memberi rasa nyaman.

5. Kebahagian. Sebagai tempat beristirahat dan melepaskan lelah bagi mereka yang sedang dalam perjalanan, penawar lapar dan dahaga. Semoga pula kebun-kebun yang ada di taman ini hasilnya berlimpah, sehingga

6. Ternak-ternak terurus karenanya. Demikian pula para juru peliharanya. Semoga mereka senantiasa aman, tenang, nyaman tidur dan berbahagia apapun yang mereka perbuat.

7. Semoga semua yang ada di taman ini dilindungi oleh planet dan rasi serta selalu dalam keberuntungan, awet muda, panjang usianya selama menjalankan tugas mereka.

8. Semoga para hamba yang setia dan berbakti memelihara taman ini selalu dicintai, keluarganya di karuniai kebahagiaan. Dan para pengunjung taman ini selalu yang jujur, dari manapun mereka datang dan singgah

9. Tidak ada pencuri, perampas, pembunuh, atau penzinah (pelacur). Selalu itu semoga mereka yang datang merupakan kawan dan penasehat yang baik, dan dalam jiwanya terlahir pikiran Bodhi serta persahabatan

10. Selalu sesuai dan tak terpisah dari ajaran suci tiga ratna. Dan semoga mereka senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar. Semoga dalam diri mereka timbul tenaga, kerajinan.,

11. Pengetahuan, dan seluruh citarasa keindahan. Semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti mahasattwa,

12. Berkekuatan tiada tara, berjaya dan juga ingat akan kehidupan- kehidupan mereka sebelumnya, berindera lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tanang,

13. Bersuara merdu seperti suara brahma. Semoga mereka terlahir sebagai pria yang menjadi wadah batu ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran kelahiran, kekuasaan atas karma, dan kekuasaan atas

14. Noda-noda, semoga akhirnya mereka mendapat penerangan yang sempurna dan agung

Membaca terjemahan arti tulisan pada Prasasti Talang Tuwo tersebut kita jadi tahu bahwa leluhur masyarakat Bumi Sriwijaya telah mengenal arti konservasi yang sesungguhnya. Pemanfaatan sumber daya alam secara seimbang dan memperhatikan aspek kelestarian telah dipraktikkan di Bumi Sriwjaya sejak ribuan tahun lalu di masa Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Sang Baginda Sri Jayanasa telah menginisiasi pembangunan Taman Sri Ksetra pada tahun 606 Saka (684 Masehi yang diperuntukkan bagi semua makhluk hidup (manusia, satwa dan tumbuhan). Tujuan pembangunan Taman Sri Ksetra tersebut adalah demi kesejahteraan dan kemakmuran seluruh makhluk hidup di bumi Sriwijaya sehingga masyarakat sejahtera dan tentram (Sholeh, 2017).

Konsep konservasi tanah dan air juga telah diinisiasi yaitu dengan adanya titah Sang Baginda Sri Jayanasa kepada penduduk agar menanam jenis pohon dari Famili Arecaceae seperti kelapa (Cocos nucifera), sagu (Metroxylan sagu), pinang (Areca catechu), enau/aren (Arenga pinnata), serta beberapa tanaman dari Famili Gramineae yaitu bambu wuluh (Gigantochloa atroviolacea) dan bambu betung (Dendrocalamus asper), serta jenis lainnya berupa pohon buah-buahan yang dapat dimakan (Patriana & Nurhadi, 2012 dalam Dalimunthe et al., 2019). Famili Arecaceae dan Gramineae ini dianggap Sang Baginda Srijayanasa memberikan manfaat, tidak hanya bagi manusia, tetapi juga binatang yang ada di Taman Sri Ksetra.

Tanaman dari Famili Arecaceae yang diketahui terdapat di Taman Sri Ksetra pada masa Dapunta Hyang Sri Jayanasa berkuasa memiliki manfaat yang sangat banyak. Menurut Siregar (2005) dalam Nuryanti et al. (2015) tumbuhan Arecaceae adalah salah satu famili tumbuhan terpenting bagi manusia yang banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya sebagai bahan kerajinan, makanan, minuman, obat tradisional, hiasan, bahan bangunan, dan sebagainya.

Adanya aneka jenis tumbuhan dari Famili Arecaceae, terutama jenis palma di Taman Srī Ksetra, dibuktikan dengan penelitian paleobotani (analisis serbuk sari/polen). Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa jenis Palmae (Arecaceae), sirsak (Annonaceae), dan padi-padian (Gramineae) mendominasi kawasan ini (Arfian 1993 dalam Dalimunthe et al., 2019). Penduduk Sriwijaya mendapat bahan makanan dari pohon sagu, selain padi lebak. Tepung sagu memiliki peran penting pada awal sejarah kota pelabuhan ini, bukan hanya untuk penduduk pusat dan pinggiran, tetapi juga sebagai bekal pelayaran karena tahan disimpan lebih dari satu bulan kalau masih basah. Berkat kemandiriannya dalam bidang pangan, Sriwijaya dapat menandingi kekuatan kerajaan di Jawa. Sebuah sumber dari Cina pada abad ke-13 M menyebutkan bahwa raja hanya dapat memakan makanan berbahan dasar sagu. Sagu tersebar di bantaran Sungai Musi karena lingkungannya sangat cocok untuk sagu. Menurut Charras et al. (2006) dalam Dalimunthe et al. (2019), sagu dapat tumbuh pada lahan basah (bukan rawa dalam) atau pinggiran lebak. Jenis tepung berbahan dasar sagu merupakan bahan makanan pokok bagi penduduk di lahan basah pesisir timur Sumatera saat itu. Lingkungan alam pesisir timur Sumatera saat itu berada di titik pusat Daerah Aliran Sungai Musi. Daerah ini sangat rendah sehingga air pasang laut dapat masuk ke daratan. Hal inilah yang menjadi penyebab kapal-kapal besar dapat memasuki Sungai Musi hingga ke Kota Palembang (Manguin et al. 2006 dalam Dalimunthe et al., 2019). Hingga saat ini sagu telah memberikan manfaat bagi masyarakat Bumi Sriwijaya. Berbagai jenis makanan berbahan dasar sagu telah menjadi konsumsi sehari-hari masyarakat dan memberikan penghidupan bagi masyarakat di Bumi Sriwijaya.

Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, bambu telah menjadi bagian kehidupan masyarakat (Yenrizal 2017). Akan tetapi pada saat sekarang keberadaan pohon bambu di alam semakin menghilang dikarenakan dipandang sebagai tanaman kelas tiga yang tidak memiliki nilai ekonomis dan pemasarannya terbatas. Hal ini berbanding terbalik dengan hasil penelitian International Network to Bamboo and Rattan (INBAR) yang menyatakan berbagai keistimewaan bambu. Selain digunakan sebagai bahan bangunan, perabotan ataupun bahan makanan, bambu memiliki nilai ekologi, mampu menyimpan cadangan karbon yang tinggi dan menjadi sumber energi alternatif. Widnyana (2012) menyatakan bahwa tanaman bambu mempunyai sistem perakaran serabut dengan akar rimpang yang sangat kuat. Karakteristik perakaran bambu memungkinkan tanaman ini menjaga sistem hidrologis sebagai pengikat tanah dan air, sehingga dapat digunakan sebagai tanaman konservasi. Perakaran bambu yang dapat mencengkeram partikel tanah diharapkan dapat mengurangi partikel tanah yang terbawa aliran air yang masuk ke dalam badan sungai. Dengan demikian bambu merupakan jenis tumbuhan yang tepat digunakan dalam konservasi tanah dan air di Daerah Aliran Sungai (DAS) dalam upaya mengamankan sempadan sungai (Artiningsih, 2012; Ben-zhi et al., 2005 dalam Mentari et al., 2018).

Bambu menghasilkan oksigen 30% lebih dari pohon sehingga dapat mengurangi terjadinya pemanasan global. Rumpun bambu dapat menyerap karbon dioksida hingga 12 ton per hektar, yang membuat bambu menjadi pengisi ulang udara segar yang efisien. Bambu membantu mengurangi polusi air karena konsumsi nitrogen tinggi, sehingga merupakan solusi untuk penyerapan nutrisi kelebihan air limbah dari pertanian, manufaktur, peternakan, dan pengolahan limbah (Artiningsih, 2012).

 Bambu juga memiliki fungsi yang sangat banyak, diantaranya adalah:

1. meningkatkan volume air bawah tanah;

2. konservasi lahan;

3. perbaikan lingkungan ;

4. sifat-sifat bambu sebagai bahan bangunan tahan gempa, khususnya wilayah rawan gempa

Kondisi hutan bambu memungkinkan mikro organisme dapat berkembang bersama dalam jalinan rantai makanan yang saling bersimbiosis. Selain itu juga akan menciptakan iklim mikro di sekitarnya. Penelitian di Cina menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pinus dan tumbuhan daun jarum lainnya, kanopi tegakan bambu efektif menurunkan air lolos (throughfall) lebih dari 25% pada saat hujan yang lebat (Artiningsih, 2012; Ben-zhi et al., 2005 dalam Mentari et al. 2018). Dengan menurunnya persentase air lolos berarti akan mengurangi limpasan permukaan penyebab terjadinya erosi.

Yenrizal (2017) menyatakan bahwa berdasarkan hasil penelitian Sutiyono (Puslitbang Penelitian Produktivitas Hutan Bogor), bambu merupakan jenis tanaman lahan basah yang dapat ditanam di lahan gambut dan ramah lingkungan serta mampu mensubstitusi kayu. Bambu dianggap dapat membantu proses restorasi lahan gambut di Sumatera Selatan apabila dikelola dengan sistem multikultur.

Begitu banyak manfaat dari berbagai jenis tanaman yang ada di dalam Taman Sri Ksetra di Era Dapunta Hyang Sri Jayanasa berkuasa, menyadarkan kita bahwa Sang Baginda Sri Jayanasa adalah seorang pemimpin yang visioner dan memperhatikan keseimbangan alam di dalam menjalankan kehidupan. Pemimpin yang selalu memperhatikan kehidupan seluruh makhluk hidup yang ada di wilayah Kerajaannya (manusia, tumbuhan maupun satwa) agar terhindar dari bencana atau penderitaan serta mendapatkan kesejahteraan dan kemakmuran. Pemimpin yang konservasionis, yang meletakkan dasar konservasi di dalam penyelenggaraan kehidupan di Bumi Sriwijaya, dengan mewariskan 14 petuah yang tertuang di dalam Prasasti Talang Tuwo.

Dalam Prasasti Talang Tuwo, Dapunta Hyang Sri Jayanasa tidak hanya mengamanatkan bagi rakyatnya untuk menanam berbagai jenis tanaman dari Famili Arecaceae dan Gramineae semata, serta menjaga kelestarian binatang di Kerajaan Sriwijaya, tetapi juga bagaimana mengelola lingkungan dengan menerapkan prinsip kelestarian. Adanya bendungan-bendungan dan telaga yang berfungsi sebagai daerah resapan air pada Era Dapunta Hyang berkuasa membuat Bumi Sriwiajaya terhindar dari bencana banjir. Hal ini dikarenakan telah diterapkannya sistem pengelolaan tata air yang baik disertai dengan penanaman jenis tanaman yang sesuai dengan kondisi lingkungan Taman Sri Ksetra. Ini menjadi bukti bahwa leluhur masyarakat Sumatera Selatan telah menancapkan tonggak sejarah konservasi di Bumi Sriwijaya. Telah ada kesadaran di dalam pengelolaan lingkungan pada masa Kerajaan Sriwijaya yang memandang bahwa lingkungan yang ada saat itu merupakan lingkungan yang akan diwariskan kepada generasi mendatang sehingga diperlukan pengaturan dalam pemanfaatannya agar tetap lestari (sustainable). Nilai penting dari Prasati Talang Tuwo adalah adanya tiga unsur penting dalam mengelola lingkungan yaitu tata ruang, tata Kelola dan tata manfaat (Yenrizal, 2017).

Semoga dengan mengetahui sejarah konservasi di Bumi Sriwijaya melalui Prasasti Talang Tuwo, spirit Sang Baginda Sri Jayanasa di dalam pengelolaan lingkungan dapat menggugah kesadaran bersama masyarakat di Sumatera Selatan tentang arti penting konservasi. Tidak hanya konservasi bagi tumbuhan dan satwanya, tetapi juga konservasi tanah dan air, yang pada akhirnya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Sumatera Selatan. Selain itu juga meneladani apa yang menjadi prinsip Sang Baginda Sri Jayanasa bahwa alam merupakan harta yang harus kita wariskan untuk generasi mendatang dalam kondisi yang baik atau lebih baik dari saat ini, sehingga di masa mendatang generasi penerus kita tidak akan menghadapi berbagai persoalan alam yang dapat menyengsarakan kehidupan mereka. Aktualisasi amanat Sang Baginda Sri Jayanasa yang terpahat dalam Prasasti Talang Tuwo harus diejawantahkan secara riil dalam kehidupan. Mulai dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri dan mulai saat ini.

Referensi :

Artiningsih, N.K.A. 2012. Pemanfatan Bambu pada Konstruksi Bangunan berdampak Positip bagi Lingkungan. Metana, 8 (1) : 1-9.

Dalimunthe L.H., Rana G.K., Ekasari N., Iskak P.I., Andriani J. 2019. Sagu (Metroxylon sagu Rottb.). Bogor. Pusat Perpustaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian.

Mentari M., Mulyaningsih T., Aryanti E. 2018. Identifikasi Bambu Di Sub Daerah Aliran Sungai Kedome Lombok Timur Dan Alternatif Manfaat Untuk Konservasi Sempadan Sungai (The identification of bamboo at Kedome Sub Watershed East Lombok and its alternatives conservation for the river buffer zones). Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Journal of Watershed Management Research) Vol. 2 No. 2 : 111-122

Nuryanti S., Linda R., Lovadi I. 2015. Pemanfaatan Tumbuhan Arecaceae (Palem-Paleman) Oleh Masyarakat Dayak Randu Di Desa Batu Buil Kecamatan Belimbing Kabupaten Melawi. Protobiont Vol. 4 (1) : 128-135.

Rezeki. W. 2020. Pembangunan pada Masa Kedatukan Sriwijaya. Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam. Volume 10, Nomor 1.

Sholeh K. 2017. Prasasti Talang Tuo Peninggalan Kerajaan Sriwijaya sebagai Materi Ajar Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas. Jurnal HISTORIA Volume 5, Nomor 2.

Siregar. S.M. 2018. Talang Tuo Inscription: The Management of Environmental in Sriwijaya Period. Indonesian Journal of Environmental Management and Sustainability Volume 3 : 83-84.

Widnyana K. 2012. Bambu dengan berbagai Manfaatnya. Bumi Lestari.

Yenrizal. 2017. Lestarikan Bumi dengan Komunikasi Lingkungan. Yogyakarta. Deepublish.

Yenrizal. 2018. Makna Lingkungan Hidup di Masa Sriwijaya : Analisis Isi pada Prasasti Talang Tuwo. Jurnal ASPIKOM. Vol.3 No.5:833-845.

Yenrizal. 2018. Nilai-Nilai Lingkungan Hidup pada Prasasti Talang Tuwo :Perspektif Komunikasi Lingkungan. Noerfikri Offset





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment